Dampak Naiknya Tarif Cukai Ke Industri Temabaku RI

Diposting pada

tanjunglegend.com – Hallo sahabat, kembali lagi dengan saya admin. Yang akan selalu memberikan informasi terupdate dari dalam maupun luar negri. Kali ini, admin akan menjelaskan tentang dampak naiknya tarif cukai ke industri tembakau RI.

Firman Subagyo menilai, kenaikan cukai hasil tembakau tahun 2022 naik sebesar 12%. Dan penyederhanaan 10 layer menjadi 8 layer.

Sebagaimana tertuang dalam peraturan mentri keuangan (PMK), No 192 tahun 2021. Sangat eksesif sehingga akan semakin memperburuk kelangsungan sektor pertembakauan Nasional.

Terdapat dua hal utama yang harus diwaspadai, Pertama. Kenaikan harga rokok akan menyebabkan perokok mencari alternatif rokok, dengan harga yang lebih murah . Salah satunya adalah rokok ilegal.

Kenaikan harga rokok, berpengaruh pada naiknya jumlah permintaan pada rokok ilegal. Baik dalam jangka pendek, maupun dalam jangka panjang.

Kedua, kenaikan tarif cukai dan harga rokok dalam jangka panjang, dapat berdampak negatif terhadap keberlangsungan IHT. Sebab, kenaikan harga rokok yang dilakukan secara terus menerus akan berdampak terhadap kenaikan rokok ilegal.

Keberlangsungan IHT pun selanjutnya juga, dapat berpotensi menggerus penerimaan negara.

Ini Dampak Tarif Cukai Naik

Sementara itu, Muhamad Misbahun selaku anggota Komisi XI DPR RI menyorotikampanye negatif yang dilakukan pemerintah. Seperti rokok sebagai konsumsi terbesar kedua dalam komponen pengeluaranrumah tangga miskin.

Baca Juga : Gejala Virus Covid-19 Omicron Saat Bangun Tidur

Ketua Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) Suraya, Sulami bahar. mengatakan dampak kenaikan CHT dan simplifikasi sangat memberatkan IHT legal. Di saat pandemi Covid-19 melumpuhkan sendi-sendi ekonomi, pemerintah sudah menaikan cukai hasil tembakau 3 kali.

Sulami Bahar meragukan data rokok illegal yang dipaparkan Menteri Keuangan Sri Mulyani kala itu, sebesar 4,8%. Menurut Sulami, kenyataan di lapangan mencapai 26,3% atau setara dengan kerugian negara sebesar Rp53 triliun, sebagaimana hasil survei Indodata (2021).

Terkait simplifikasi dari 10 layer menjadi 8 layer, Sulami sejatinya keberatan dengan kebijakan tersebut. Pasalnya, simplifikasi itu akan mematikan perusahaan rokok menengah dan kecil.

Selain itu, simplifikasi akan makin menegaskan adanya persaingan usaha yang tidak sehat. Oleh karena itu, Sulami Bahar mengusulkan agar pemerintah memberikan kepastian usaha bagi kepastian usaha industri hasil tembakau legal melalui roadmap.

Baca Juga : Umuh Muchtar Berikan Kabar Mencengangkan

Akhir Kata

Itulan penjelasan dari kami, Ikuti terus berita-berita terupdate dari tanjunglegend.com ya guys.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *